B
BERNAS.id
National Growth Media
Edisi Hyperlocal: SITEMAP.XML
SITEMAP.XML
FREE ACCESS

Amarah Trump, Penolakan Sekutu, dan Manuver Ukraina: Chessboard yang Sedang Bergeser

Oleh: Firardi Rozy23 Maret 2026
WAWASAN MITRA
BERNAS GROWTH NETWORK

Akselerasi Bisnis Anda Hari Ini

Dapatkan bimbingan AI eksklusif untuk melipatgandakan profit Anda.

PARTNER INSIGHTSUPPORTING MEDIA GROWTH
Akselerasi Bisnis Anda Hari Ini

JAKARTA,BERNAS.ID – Krisis di Selat Hormuz tidak hanya mengguncang jalur energi global, tetapi juga membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik bahasa diplomasi: rapuhnya kohesi Barat. Ketika Amerika Serikat meminta sekutu untuk bergabung mengamankan salah satu chokepoint terpenting dunia, respons yang muncul justru bukan solidaritas, melainkan penolakan terbuka dari sejumlah negara Eropa.

Reuters melaporkan bahwa Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol menolak permintaan Washington untuk berpartisipasi dalam operasi tersebut, dengan alasan risiko eskalasi dan ketidakjelasan tujuan strategis. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer selama konflik masih berlangsung. Sedang Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan NATO adalah aliansi pertahanan bukan aliansi intervensi. Titik ini, yang terjadi bukan lagi sekadar perbedaan taktik, melainkan perbedaan arah.

Reaksi Trump 

Respons Trump terhadap penolakan sekutu Barat untuk mengirim kapal perang ke Hormuz adalah sesuatu yang terasa familiar bagi siapa pun yang memperhatikan psikologi politiknya: ia tidak meledak, ia mencatat.

Baca Juga :Skenario Chaos Opsi Terakhir Iran: Nuklir Israel atau Runtuhnya Ekonomi Global? Ini Analisa Bernard

Trump berkata terang-terangan bahwa penolakan sekutu adalah sebuah ujian — dan ujian itu mengkonfirmasi kecurigaan lamanya. Menurutnya AS sudah memberikan triliunan dolar untuk NATO membela negara lain, namun “Saya selalu merasa itu adalah kelemahan NATO, kami melindungi mereka, tapi saya selalu bilang ketika dibutuhkan, mereka tidak akan melindungi kami,” kata Trump. (The Washington Post) Ini bukan sekadar retorika frustrasi. Ini adalah deklarasi strategis: Trump kini punya amunisi narasi yang sempurna untuk merevisi komitmen AS terhadap NATO — dan ia akan menggunakannya.

Trump mengancam bahwa jika tidak ada respons, atau jika responnya negatif, itu akan “sangat buruk bagi masa depan NATO.” Ia bahkan menggoda kemungkinan membatalkan pertemuan puncak April dengan Presiden Xi Jinping sebagai sinyal frustasi yang lebih luas. (Al Jazeera)

Tapi di balik semua drama itu, ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih berbahaya bagi Eropa: Trump sedang membangun leverage lintas konflik. Ia tidak hanya marah soal Hormuz — ia sedang menyiapkan kartu untuk dimainkan di papan catur yang lain. Dan papan catur itu bernama Ukraina.

Baca Juga :Perang Dunia Ketiga Sedang Terjadi, Ini Analisa Bernard

Respons Donald Trump terhadap situasi ini segera bergerak ke wilayah yang lebih keras. Ia tidak hanya mengkritik sekutu karena tidak mau berbagi beban, tetapi juga melontarkan pernyataan yang bersifat personal terhadap Macron, menyiratkan bahwa kepemimpinan Prancis tidak permanen dan bisa berubah. Pada saat yang sama, Menteri Perang Pete Hegseth secara terbuka memuji Israel dan negara-negara Teluk sebagai mitra yang responsif, kontras dengan NATO yang dinilai lamban dan tidak solid. Bahkan Senator Lindsey Graham mengusulkan agar pasukan AS di Jerman dan Spanyol ditarik dari sana.

Jika dilihat sekilas, ini tampak seperti rangkaian pernyataan politik yang emosional. Namun dalam logika kekuasaan, ini adalah sinyal yang sangat terstruktur. Trump tidak sekadar marah; ia sedang mengubah cara aliansi bekerja.

Dalam pendekatan tradisional, NATO berdiri di atas solidaritas dan komitmen kolektif. Namun dalam pendekatan Trump, aliansi adalah kontrak—dan kontrak itu harus dibayar. Ketika sekutu menolak untuk ikut menanggung risiko di Hormuz, maka yang dipertanyakan bukan hanya keputusan mereka, tetapi nilai dari aliansi itu sendiri.

Ukraina Adalah Kunci 

Konflik di Ukraina bukan sekadar perang antara Kyiv dan Moskow. Ia adalah fondasi keamanan Eropa. Ketika konflik itu aktif, Eropa membutuhkan Amerika Serikat. Ketika konflik itu stabil atau mereda, ruang manuver Eropa menjadi lebih besar. Dengan demikian, kontrol atas intensitas konflik Ukraina berarti kontrol atas tingkat ketergantungan Eropa.

Dalam konteks ini, langkah yang paling mungkin bukan eskalasi besar terhadap Rusia, melainkan pengelolaan ketidakpastian. Dukungan terhadap Ukraina tetap dipertahankan, tetapi tidak dibuat absolut. Ia cukup untuk menjaga tekanan terhadap Rusia, tetapi tidak cukup untuk memberikan rasa aman penuh kepada Eropa. Dalam kondisi seperti ini, Eropa tidak dapat sepenuhnya menolak Washington tanpa menanggung risiko yang jauh lebih besar.

Skenario manuver ekstrim Trump yang paling mungkin adalah sebagai berikut: 

Skenario A: “Ukraine for Hormuz” — Tawar-Menawar Terbuka. Trump bisa secara eksplisit atau implisit mengkomunikasikan kepada Eropa: “Jika kalian tidak membantu di Hormuz, kami percepat negosiasi damai Ukraina dengan syarat yang menguntungkan Rusia.” Ini bukan skenario hipotetis — Trump telah menggunakannya sebelumnya: setelah mengambek terhadap Zelensky di Oval Office, ia menangguhkan bantuan militer dan intelijen yang vital ke Ukraina, sebuah sinyal yang sangat jelas bahwa dukungan AS bisa dicabut kapan saja sesuai kebutuhan negosiasi yang lebih luas. (Encyclopedia Britannica)

Skenario B: Normalisasi Hubungan AS-Rusia Melampaui Ukraina. Ada kekhawatiran nyata di dalam pemerintahan AS sendiri bahwa jika tidak ada deal yang bisa dicapai antara Moskow dan Kyiv, Trump bisa beralih ke “Plan B” — memperbaiki hubungan AS-Rusia bahkan sementara perang di Ukraina terus berlanjut. (Al Jazeera) Ini adalah skenario paling menakutkan bagi Eropa: AS dan Rusia membuat kesepakatan bilateral di atas kepala Kyiv dan NATO, dengan Ukraina sebagai pihak yang paling dirugikan.

Skenario C: Mempercepat “Frozen Conflict” dengan Syarat Rusia. Di bawah tekanan maksimum Trump, Zelensky telah menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa — setuju pada gencatan senjata tanpa syarat, terbuka untuk melepas klaim keanggotaan NATO, dan menerima pembatasan ukuran militer Ukraina. (Encyclopedia Britannica) Jika Trump merasa Eropa tidak “membayar” untuk perang Iran, ia bisa mendorong penyelesaian Ukraina yang tergesa-gesa dengan konsesi teritorial masif ke Rusia — sebuah “perdamaian” yang sebenarnya adalah kemenangan Putin yang dilegitimasi.

Inilah bentuk tekanan yang tidak langsung, tetapi sangat efektif. Sekutu tidak dipaksa secara eksplisit, tetapi ditempatkan dalam kondisi di mana setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berat.

Penolakan Eropa terhadap operasi di Hormuz sebenarnya mencerminkan dilema yang lebih dalam. Mereka menghadapi tiga tekanan sekaligus: ketergantungan pada energi global, ketergantungan pada Amerika Serikat untuk keamanan, dan tekanan domestik yang menolak perang baru. Ketiga faktor ini tidak bisa diselaraskan secara sempurna. Terlibat di Timur Tengah berarti risiko ekonomi meningkat. Menolak berarti risiko keamanan di Ukraina membesar. Tidak ada pilihan yang bebas biaya.

Di titik ini, Trump memahami betul kelemahan Barat tersebut. Jika Eropa mengabaikan Trump soal Hormuz dan kemudian Trump “menghukum” mereka dengan melemahkan dukungan untuk Ukraina, Eropa menghadapi ancaman keamanan eksistensial di Timurnya sendiri — tanpa payung AS yang selama ini menjadi tulang punggung NATO.

Inisiatif Ukraina Membantu AS 

Bantuan Ukraina memberikan drone interceptor Sting kepada AS dan negara-negara teluk untuk mencegat drone Shahed Iran yang harganya jauh lebih murah dari drone Shahed apalagi rudal Patriot seharga $4 juta, hanya $1000-2000 akan merubah peta pertempuran di Timur Tengah.

Ukraina juga mengirimkan dua ratus ahli drone ke Timur Tengah untuk membantu proses produksi yang diperkirakan mencapai 1000 drone/hari. Keputusan Zelensky ini mendapatkan apresiasi di mata para pemimpin negara-negara Teluk. Hal ini tentunya akan mempererat hubungan kerja sama yang lebih strategis kedepannya yang sebelumnya tidak terjadi.

Di sisi lain Presiden Zelensky ingin menunjukkan kepada Trump, bahwa Ukraina selalu siap membantu saat diperlukan dan dapat diandalkan. Ia ingin mendapatkan point di mata Trump pada saat AS akan menengahi perang Rusia-Ukraina. (The New York Times)

Seni Memainkan Tekanan ke Semua Front 

Trump sedang memainkan apa yang bisa disebut multi-front squeeze — tekanan simultan di beberapa front yang saling terkait, yang memaksa lawan dan sekutu sama-sama membuat pilihan yang menyakitkan tanpa pilihan yang benar-benar baik: Eropa ditekan antara Hormuz dan Ukraina. Iran ditekan antara serangan militer dan isolasi ekonomi. China ditekan antara kepentingan energinya di Hormuz dan hubungannya dengan AS. Dan Rusia — yang justru paling diuntungkan dari kekacauan ini — duduk santai menyaksikan semua aktor utama kelelahan sambil mengkonsolidasikan posisinya di Ukraina.

Trump sebenarnya memiliki leverage yang siap digunakan terhadap Rusia — memperketat sanksi ekspor minyak Rusia, menutup celah aliran semikonduktor ke Moskow, dan meminta Kongres menyetujui $25-30 miliar bantuan militer tambahan untuk Ukraina — tetapi ia konsisten memilih untuk tidak menggunakannya terhadap Putin. (Wikipedia) Ini adalah pilihan, bukan keterbatasan. Dan pilihan itu mencerminkan prioritas Trump yang sesungguhnya: bukan kemenangan Ukraina, bukan bahkan kekalahan Iran yang tuntas — melainkan restrukturisasi tatanan global di mana AS tidak lagi menanggung beban kepemimpinan liberal yang dianggapnya tidak adil.

Oleh karena itu, Trump tegas memutuskan bahwa negara-negara yang berkepentingan dengan minyak di Selat Hormuz yang harus mengurus kepentingannya sendiri mengamankan jalur navigasi aman lalu lintas tanker minyak dunia.

Pendekatan ini mencerminkan strategi yang lebih luas, redefinisi sekutu dan lawan—apa yang dapat disebut sebagai the art of the squeeze. Trump tidak memaksa sekutu untuk memilih, tetapi menciptakan kondisi di mana tidak ada pilihan yang nyaman. Menolak berarti menghadapi ketidakpastian keamanan. Mengikuti berarti menanggung risiko ekonomi dan politik.

Krisis ini, dengan demikian, bukan sekadar tentang Iran atau Hormuz. Ia adalah tentang perubahan cara dunia bekerja. Dalam dunia seperti ini, sekutu atau lawan, tidak lagi memiliki kemewahan untuk netral. Mereka tidak harus setuju dengan Washington, tetapi mereka juga tidak bisa menolak tanpa konsekuensi.

Dan di tengah papan catur yang sedang bergeser ini, satu hal menjadi semakin jelas: kekuatan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan militer, tetapi dari kemampuan menciptakan situasi di mana pihak lain dipaksa untuk memilih—meski semua pilihan sama-sama mahal.

Penulis: Bernard Haloho

Direktur Eksekutif Ind-Bri (FIE)

B-POINTS: 0 Bs
Share & Earn Active

Siap Melaju Lebih Jauh?

WAWASAN MITRA
MAHAKARYA ERP

MAHAKARYA ERP: SOLUSI BISNIS 2026

Tingkatkan efisiensi operasional Anda hingga 200%. Trusted by 1000+ Enterprises.

PARTNER INSIGHTSUPPORTING MEDIA GROWTH
MAHAKARYA ERP: SOLUSI BISNIS 2026
GOOD NEWS FROM OUR LEADERS

INSPIRASI PERTUMBUHAN GLOBAL

"Indonesia is at the forefront of digital transformation. The talent we see here is shaping the future of AI globally."

Sundar Pichai

Sundar Pichai

CEO of Google & Alphabet

BERNAS GROWTH ORIGINALS

KITAB SUCI KELAS MENENGAH

Modul taktis eksklusif (5-10 Halaman). Panduan Socratic bagi Anda untuk melesat di ekonomi Indonesia Maju 2045.

Bernas How-To: Data Analytics Strategy
Bernas Growth Lab

Bernas How-To: Data Analytics Strategy

Panduan eksklusif BERNAS (E-Book 8 Halaman) untuk menguasai fundamental data analytics. Belajarlah cara menggunakan data untuk pengambilan keputusan bisnis yang presisi.

2,000 Bs
8 HALAMAN
BERNAS HOW-TO: CLOUD FUNDAMENTALS FOR BUSINESS
BERNAS (METH. MICROSOFT)

BERNAS HOW-TO: CLOUD FUNDAMENTALS FOR BUSINESS

Master konsep cloud (E-Book 6 Halaman) untuk efisiensi operasional. Berdasarkan Metodologi Microsoft Learn.

1,500 Bs
6 HALAMAN
BERNAS HOW-TO: DIGITAL MARKETING STRATEGY
BERNAS (METH. GOOGLE)

BERNAS HOW-TO: DIGITAL MARKETING STRATEGY

Optimasi pemasaran digital (E-Book 8 Halaman) untuk UMKM Naik Kelas. Terinspirasi dari Kurikulum Google Skills.

3,000 Bs
8 HALAMAN
Bernas How-To: Digital Marketing Automation
Bernas Growth Lab

Bernas How-To: Digital Marketing Automation

Pelatihan komprehensif (E-Book 7 Halaman) SEO, PPC, and content strategy versi BERNAS. Jadilah ahli pemasaran digital.

2,500 Bs
7 HALAMAN
THE B-POINTS UTILITY

MENGAPA ANDA BUTUH BS-POINTS?

B-Points (Bs) bukan sekadar poin biasa. Ia adalah paspor Anda untuk mengakses instrumen pertumbuhan paling eksklusif di ekosistem Bernas.

1 Bs
SETARA
Rp 1,000
VALUE AKSES

STRATEGIC MODULES

Buka akses penuh ke KITAB SUCI KELAS MENENGAH. Panduan taktis 10-20 halaman.

AI CAREER AUDIT

Gunakan AI Agen kami untuk membedah potensi karir & bisnis Anda secara mendalam.

MERCHANT PERKS

Tukarkan Bs untuk Kopi, Staycation, hingga akses Coworking Space di mitra terpilih.

GROWTH EVENTS

Tiket prioritas untuk Offline Summit & Networking dengan tokoh nasional.

MAU CARI BS POINT LEBIH BANYAK? DAPATKAN DARI SETIAP ARTIKEL YANG ANDA BACA!

JOIN THE MOVEMENT

TANGAN DI ATAS,
MEMAJUKAN BANGSA

Jadilah bagian dari gerakan memajukan ekonomi daerah melalui program Phygital pertama di Indonesia.

38 Prov
Partner
514
Kab/Kota
12M+
Manfaat
850+
Aksi
COMMUNITY IMPACT

TESTIMONI PERTUMBUHAN

Dengarkan bagaimana ekosistem BERNAS membantu para profesional and wirausaha mencapai target ekonomi mereka lebih cepat.

"Sejak mengikuti update ekonomi di BERNAS, omzet UMKM saya naik 40% berkat strategi hyperlocal yang akurat. Fitur Score 85 membantu saya memetakan kompetisi dengan sangat presisi!"

B

Budi Santoso

Wirausaha Digital, Yogyakarta

POTENTIAL REWARD+50 B-POINTS
Growth Score
85 %
Points Earned
1,250
1
2
3
4
+14k
Member CommunityGrowing at 12% Monthly

BERNAS.id: Digital Growth Media

"Kami bukan sekadar portal berita. Kami adalah partner akselerasi Anda. Dengan dukungan AI dan ekosistem Phygital, setiap warta kami dirancang untuk membantu Anda tumbuh—secara wawasan maupun finansial."

#DigitalGrowth
#TrustInfrastructure
#MediaMasaDepan
    Amarah Trump, Penolakan Sekutu, dan Manuver Ukraina: Chessboard yang Sedang Bergeser | BERNAS.id SITEMAP.XML